Sekelumit Ancaman Dieng: Erosi, Hilangnya Mata Air, dan Lahan Kritis (2014)

Refleksi Perjalanan Peneliti Muda: Ragil Satriyo Gumilang*

Adalah wajar, bila seseorang merasa bingung menuangkan isi pikiran menjadi barisan kata-kata. Adalah saya. Saat ini pun sedang mengalaminya, buntu, bahkan untuk menulis kalimat pertama. Ketika hal tersebut terjadi, yang saya lakukan adalah mencari umpan, lalu ‘lemparkan’! Entah ada atau tidak ada ikan, setidaknya tangan kita telah tergerakkan. Inspirasi tersebut saya dapatkan dari sebuah adegan film Finding Forrester (2000).

Film itu mengisahkan tentang persahabatan antara seorang pelajar SMA menuju masa kuliah tingkat pertama (Jamal) dan seorang penulis terkenal yang sedang mengasingkan diri (William Forrester). Dalam sebuah adegan di film tersebut, Jamal nampak kebingungan mengerjakan tugas menulis makalahnya, beberapa lama dia pandangi tuts mesin ketik yang tak kunjung menari. Melihat kondisi tersebut, William pun menasihatinya, “No thinking, that comes later. You must write your first draft with your heart. You re-write with your head. The first key to writing is: to write, not to think!“. Nampaknya nasihat William pun masih kurang berkhasiat. Lalu dia sodorkan kepada Jamal salah satu karya sastranya. Kemudian William berkata, “Start typing that. Sometimes the simple rhythm of typing, gets us from page one to page two. And when you begin to feel your own words, start typing them.”

Cukuplah paragraf ‘pancingan’ tersebut saya tulis dalam rubrik ‘Cinta Alam’ ini. Bukan bermaksud menghubung-hubungkan dua hal yang sebenarnya tak berhubungan, ‘thuk-thuk-gathuk’ dalam peribahasa Jawa. Namun menurut saya, memang cukup erat hubungannya, setidaknya dalam ranah filosofis. Baik laku cinta terhadap alam maupun menulis, setidaknya ada tiga hal yang penting diperhatikan, yaitu; hati, pikiran dan aksi. Bahkan dalam segala hal, perpaduan antara hati, pikiran dan aksi tentunya akan melahirkan sesuatu yang bernama kesungguhan.

Saya akan mencoba bermain dengan pikiran terlebih dahulu. Barangkali belum semua dari kita mengerti apa yang sudah dan sedang terjadi dengan alam ini, apalagi ter-internalisasi dalam hati atau bahkan untuk melakukan aksi. Akan saya mulai dari kondisi alam terdekat kita, Wonosobo.

Tahukah kita bahwa Pegunungan Dieng yang berada di Kabupaten Wonosobo dan sekitarnya diberi nama dari bahasa Sanskerta yaitu, Di (tempat tinggal) dan Hyang (dewa)? Kombinasi kata yang berarti tempat tinggal para dewa.  Dari nama tersebut, tergambar dalam pikiran saya bahwa Pegunungan Dieng layaknya kayangan atau surga, dahulu adalah tempat yang nan aduhai. Pernah saya memandang bentang alam Dieng ketika berada di atas sana, lalu memejamkan mata seraya berimajinasi menambah berbagai ornamen di sana-sini,  sungguh luar biasa, serasa di atas surga.

Namun, tahukah kita bahwa tahun 2008 lalu tingkat erosi di Pegunungan Dieng mencapai 161 Ton per hektar per tahun dan terus meningkat sejak tahun 90-an? 161 Ton bukan angka yang kecil. Bayangkan saja, kira-kira ada lahan seluas lapangan sepak bola tiap tahun dikeruk tanahnya sebanyak 10 dump truck ukuran sedang. Yang tererosi lalu terbawa air pastilah tanah bagian atas, tanah yang mengandung banyak unsur hara. Saya tidak akan mengatakan siapa sang tersangka. Logika sederhana saja, peluang erosi lebih besar terjadi pada lahan-lahan yang tidak tertutup tumbuh-tumbuhan, pada lahan yang tingkat kemiringannya tinggi, pada lahan yang dikelola secara intensif namun tidak ramah lingkungan. Tahukah kita, laju erosi yang terjadi di Pegunungan Dieng tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Kawasan Gunung Sindoro Sumbing yang juga berada di Kabupaten Wonosobo dan sekitarnya? Pada tahun 2008 lalu laju erosi mencapai 108 Ton per hektar per tahun. Saya pun mencoba mencium bau sejarah dari asal nama Gunung Sindoro. Çundara, dari bahasa sanskerta yang berarti cantik, baik dan indah. Ataukah Sundara yang berarti anak lelaki yang baik dan tampan. Mungkin begitulah adanya ketika dulu kala. Raksasa zamrud berserasah basah yang begitu anggun memesona.

Dan tahukah kita, bahwa lahan kritis di Kabupaten Wonosobo mencapai 28 ribu hektar atau sekitar sepertiga dari luas wilayah kabupaten Wonosobo? Serta tahukah kita, bahwa tahun 2014 ini telah ada 44 sumber air di Kabupaten Wonosobo yang mengering atau mati? Pertanyaan pamungkasnya adalah, tahukah bahwa kerusakan alam ini sebagian besar karena perilaku kita, manusia?

Saya pernah melakukan penelitian di daerah Pegunungan Dieng tahun 2010 lalu, mengurai salah satu masalah di sana saja sudah serasa mengurai benang kusut di Samudera Hindia, kompleks. Apalagi mencari solusinya. Mungkin sebagian dari kita tak ingin dipersalahkan atas segala kerusakan alam tersebut. “Aku kan ndak ngerusak hutan, aku kan bukan orang yang ngolah lahan yang ndak bener? Aku kan cuman siswa sekolah biasa. Aku kan pekerja kantoran biasa. Aku kan.. Aku kan…”. Tapi tahukah, bahwa hampir setiap polah laku masing-masing kita akan berdampak pada bumi ini? Salah satu contoh dalam hal mengemisi karbondioksida, misalnya kita berangkat kerja atau sekolah menggunakan kendaraan berbahan bakar bensin, setiap proses pembakaran pasti akan mengemisikan karbondioksida.

Bahkan menggunakan lampu, komputer, dan perangkat elektronik lainnya, sebagian besar berujung pada menambah kadar karbondioksida di udara. Kita tahu, peningkatan CO2 di udara menyebabkan efek rumah kaca. Saya pernah iseng-iseng menghitung berapa kira-kira emisi CO2 yang saya sumbangkan kepada bumi ini setiap bulannya dan terhitung sebesar 53 kgCO2/bulan, emisi pribadi yang berasal dari penggunaan listrik, BBM, sampah, dan transportasi. Supaya impas menyerap CO2 tiap bulan, seharusnya saat ini saya telah merawat minimal 1 pohon sedang setinggi 3 meter. Cobalah hitung emisi pribadi anda. Dan hitung pula, berapa hutang anda selama hidup terhadap bumi ini. Apakah saat ini pikiran dan hati kita mulai menyadari? Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi akan mulai beraksi mencintai alam ini?

Sesungguhnya, setiap detik yang kita lalui selalu tertulis rapi dalam catatan Illahi. Salam.

Referensi: https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/63619

full teks: https://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/63619/E10rsg.pdf?sequence=1&isAllowed=y

Pembelajaran Sosial (Social Lesson Learning) dalam Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan Di Kawasan Pegunungan Dieng (Kasus di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah)

*Penulis adalah lulusan IPB jurusan Manajemen Kehutanan, dan kini bekerja sebagai Forestry & Rehabilitation Specialist di Wetlands International Indonesia sejak tahun 2010.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s