Pengabdian Guru Yang Melahirkan Inspirasi

Penulis: Retno Ernawati, S.Sn., M.M.

Sosok seorang guru disegani oleh murid dan masyarakat karena dedikasinya terhadap profesi. Pengabdian, kesederhanaan, semangat juang pantang menyerah menjadi sikap yang mungkin tak dimiliki semua profesi. Apalagi di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya perhatian terhadap profesi guru. Di dunia pendidikan saat ini, Guru, sejatinya adalah sumber inspirasi. Hal itu tertuang dalam pepatah Inggris; “The mediocre Teacher tells. The good Teacher explains. The Superior Teacher demonstrates. The great Teacher inspires.” (Guru yang biasa-biasa saja memberi tahu. Guru yang baik menjelaskan. Guru yang bagus menunjukkan caranya. Guru yang luar biasa mengispirasi.)

Hal itu semakin menegaskan bahwa Guru di era ini sudah jauh berbeda dengan zaman dahulu. Dahulu menjadi seorang guru merupakan sebuah prestige. Sedangkan hari ini, profesi guru bagaikan tambang emas sehingga banyak yang mengejar hingga mendapat sertifikasi. Lalu, bagaimana itu bisa terjadi?

Memilih profesi guru kadang dipilih dari waktu kerja yang lebih pendek dibanding  dengan pekerjaan lain. Kedudukan guru di masyarakat juga dipandang terhormat karena mengajarkan ilmu.  Fenomena tersebut kini justeru memunculkan pertanyaan apakah masih layak ungkapan ‘Guru Adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?’

Apalagi jika dilihat dari penghasilan, kini pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar 21% dari APBN, untuk peningkatan kualitas pendidikan yang meliputi kesejahteraan guru. Namun pengabdian tidak diukur dari besar kecilnya penghasilan, apalagi meningkatnya kualitas pendidikan. Kini, dengan berbagai masalah seperti belum meratanya pendidikan dan daerah terpencil di Indonesia masih banyak yang kekurangan guru.

Padahal guru lah yang mampu mengubah paradigma peserta didik dari yang tidak paham menjadi pahamyang tidak tahu menjadi tahu, dan yang tidak mengerti menjadi mengerti. Hal itu juga merujuk pada kutipan seorang Pujangga Amerika, Ralph Waldo Emerson “The man (or woman) who can make hard things easy is the educator.” Yakni orang yang mampu membuat semua hal sulit menjadi mudah dipahami, itulah Guru. Maka, tanpa kehadiran guru, profesi-profesi lain mustahil berkembang.

Memang sejatinya materi juga tak bisa dinafikkan untuk menopang kebutuhan hidup. Mengingat kini keadaan telah berubah dan minat untuk terjun menjadi tenaga pendidik makin minim. Berbeda dengan 10–20 tahun lalu, ketika citra guru masih memiliki kesan sebagai satu profesi yang luhur. Meski waktu itu, gaji guru yang sangat tidak sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Popularitas guru sebagai profesi berada jauh dibawah profesi mentereng lainnya, contohnya profesi dokter.

Maka tak heran jika gambaran Iwan Fals dalam lagunya “Oemar Bakri” sangat akurat menggambarkan kehidupan guru. Meski Oemar Bakri di era ini semakin jarang, namun para guru juga dihadapkan pada sebuah dilemma antara profesionalisme kerja Mengajar dengan profesi guru sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Apalagi di jejaring sistem pendidikan yang begitu kompleks, guru memiliki peran sentral. Maka jika kita merangkum kualitas guru, ialah bagaimana guru mengabdi, bagaimana cara guru mencintai profesinya. Ketika guru mencintai profesinya, maka pengabdiannya akan seluruhnya diberikan pada kemajuan pendidikan.

Kini, tanggung jawab guru terpenting adalah merencanakan dan menuntun anak didiknya belajar mencapai pertumbuhan serta mengembangkan kurikulum sekolah. Hal itu seperti yang di ulas David Part (1980, hlm.4) yakni lebih menekankan kurikulum sebagai rencana umum yang bersifat tertulis. Kurikulum merupakan rencana atau blue print bagi kegiatan (Sukmadinata, 1988, hlm.6).

Pendapatnya yang lain (2001), sistem persekolahan terbentuk atas empat subsistem, yaitu: mengajar, belajar, pembelajaran, dan kurikulum. Maka secara singkat, pendidikan harus dapat mengembangkan potensi   peserta didik agar menjadi manusia berkarakter, berani menghadapi problema yang dihadapi tanpa merasa tertekan, dan mau dan mampu serta senang mengembangkan diri untuk menjadi manusia unggul.

Pendidikan harus mampu mengembangkan kepribadiaan peserta didik sehingga mereka memiliki kebiasaan, sikap dan cita-cita, berpikir dan berbuat, berani dan bertanggung jawab, ramah dan mau bekerjasama, bertindak atas dasar nilai – nilai moral yang tinggi.

Semua hal di atas kini jadi tanggung jawab guru dan cukup menjelaskan perbedaan guru di era dahulu dan saat ini. Maka menjadi seorang guru harus disadari bukanlah satu pekerjaan yang gampang, tetapi diperlukan banyak usaha. Sehingga mampu menghindari jebakan bersifat psikis dalam tuntutan profesionalisme kerja yang berorientasi pada pencapaian hasil berupa materi semata.

Kita bisa melihat, banyak guru mengajar hanya sebagai rutinitas administratif atau istilahnya ‘kewajiban kerja’ semata. Semua dianggap selesai ketika guru masuk dalam kelas, memberikan materi pembelajaran seadanya, tanpa persiapan dan konsep layaknya silabus, bahkan tanpa menyiapkan RPP. Maka, menurut penulis, memahami pentingnya peran guru sebagai pilar membangun moral generasi muda bangsa adalah hal yang penting. Pembentukan pribadi unggul pada idealisme guru untuk tulus mengabdi pada pendidikan adalah yang utama. Maka sekali lagi, bahwa menjadi guru adalah pengabdian yang tiada selesainya kepada bangsa dan Negara kita.

(Guru Mapel Seni Budaya SMP Negeri 3 Garung, Wonosobo)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s