Potensi Kearifan Lokal Silandak di Era Modern

Oleh: Ahmad Hafid*

Sebuah tatanan masyarakat membutuhkan peran penting dari warga untuk mewujudkan masyarakat yang madani. Tatanan itu diwujudkan dengan ke-guyub-an antar individu meskipun dengan berbeda latar belakang. Namun di zaman yang sudah maju seperti ini, hampir setiap warga masyarakat memiliki sifat yang individualisme karena mengandalkan sebuah gedget dalam beraktivitas. Padahal interaksi sosial disebuah masyarakat merupakan hal yang wajib ada disetiap pribadi warga dalam berbaur dikehidupan sehari-hari.

Namun berbeda dengan dusun yang satu ini, lahir dan tumbuh di perkampungan yang terbilang jauh dari hiruk-pikuk kota merupakan satu hal yang paling disyukuri dalam hidup. Dapat berbaur di masyarakat ini merupakan pola interaksi sosial yang memberikan setiap individu memiliki sifat kekeluargaan dalam bermasyarakat. Meski banyak orang-orang kota yang mengatakan “wong ndesa, wong gunung”, akan tetapi masyarakat di dusun ini tidak pernah memperdulikannya. Justru kata tersebut menjadikan motivasi untuk selalu bangkit dalam mengembangkan kemasyarakatan disini. Nama dari dusun ini adalah Silandak. Apakah kalian tahu dusun ini? Ya wajar saja. Silandak adalah dusun yang berada di lereng Gunung Bismo dengan ketinggian mencapai lebih dari 1.200 mdpl.

Sejarah Silandak

Sedikit sejarah mengenai asal usul nama “Silandak” bahwa dahulu pada masa kolonial, warga ditakutkan oleh para penjajah dengan serangan hewan landak yang disebar disetiap lingkungan dusun ini agar masyarakat tidak berani melawan para penjajah. Sehingga dulu yang namanyan “Dusun Nomposari” menjadi “Dusun Silandak”.

Dusun Silandak dihuni ± 450 keluarga dengan mayoritas mata pencaharian sebagai petani. Sifat pekerja keras yang dimiliki masyarakat membuat kemajuan dalam teknik pengelolaan lahan pertanian. Warga mampu menggunakan dengan optimal lahan pertanian yang produktif tanpa menggunakan bantuan informasi melalui sebuah gedget. Petani mampu memanfaatkan kesuburan tanah dengan menanam berbagai macam sayuran, umbi-umbian, dan kayu-kayu keras sebagai hasil pendapatan.

Potensi Pertanian

Selain itu karena perkebunan warga letaknya dilereng Gunung Bismo sangat memungkinkan bahwa dikawasan ini bisa ditanami kentang, tanaman kopi, dan buah kemar. Kehidupan yang dijalani warga disini sungguh hangat, masih petang setelah sholat subuh warga  berbondong-bondong ke kebun masing-masing, dengan gembira mereka bercocok tanam meski terkena teriknya matahari. Seseorang akan memanen tanamannya dibantu dengan warga lain dalam menyelesaikannya.

Sikap kekeluargaan yang terjaga keutuhannya ada disini. Bahkan warga sangat ramah terhadap siapapun yang berkunjung kesini. Warga akan sangat antusias menyapa dan berusaha akrab terhadap orang baru yang menjadi tamu di dusun ini sehingga tidak jarang tamu yang merasa nyaman dan memuji dusun ini saat melakukan kunjungan.

Guyub Yang “Mendarah Daging”

Sudah menjadi darah daging disetiap pribadi warga akan keguyuban dan kerukunan dalam melerai setiap permasalahan di masyarakat demi kemajuan bersama. Keguyuban yang dapat dibuktikan ialah “kegiatan gotong royong”, warga disini memiliki semangat yang tinggi terutama dalam pemberdayaan fasilitas umum yang ada disini. Gotong royong pembersihan lingkungan masyarakat dan rumah setiap minggunya selalu dilakukan oleh ibu-ibu dan remaja-remaja wanita itu salah satunya. Kemudian sering sekali dilakukan pembuatan jalan yang berfungsi sebagai penghubung ke kebun-kebun sekitar dusun yang belum memiliki akses jalan dan perbaikan akses jalan.

Kerukunan dan kegayengan Warga Silandak memberikan dampak positif untuk upaya mewujudkan dusun yang mandiri sebagai cita-cita bersama dalam mengembangkan segala potensi. Dengan kepercayaan dan kekompakan Masyarakat Silandak akan segala potensi yang ada di dusun ini, bersama-sama masyarakat memberdayakan Gunung Bismo sebagai objek wisata Dusun Silandak. Sebelumnya para warga dengan guyub dan semangatnya melakukan pembuatan camp di Gunung Bismo pada tanggal 4 syawal 1440 H dan perbaikan akses jalan menuju puncak kemudian berdoa bersama di makam-makam yang ada di puncak gunung.

Potensi Wisata

Sebenarnya potensi wisata di Dusun Silandak tidak hanya Gunung Bismo namun ada juga Curug Nganten, dan Curug Gelagah, namum masyarakat akan merintis secara bertahap. Pada tanggal 20-21 Juli 2019 akan diadakan peresmian jalur pendakian Gunung Bismo Via Silandak dengan tema “Peran Swadaya Masyarakat dalam Pengembangan Sumber Daya Alam Gunung Bismo”. Acara ini diadakan bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Slukatan Kecamatan Mojotengah yang dibuka untuk umum dan gratis.

Karakteristik yang dimiliki oleh setiap warga di Dusun Silandak harus tetap dijaga dengan baik untuk selalu memudahkan dalam menyelesikan pemecahan sebuah masalah agar tidak menimbulkan perpecahan. Begitupun dengan potensi alam yang ada harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan menjaganya dan melestarikannya untuk masa depan nanti supaya generasi selanjutnya dapat menikmati segala berkah yang dilimpahkan oleh Tuhan.

*Penulis: Ahmad Hafid, adalah Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) Jateng  di Wonosobo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s