Spiritualitas dan Reaktualisasi Pancasila

Refleksi Peringatan Hari Lahir Pancasila

Oleh: Munadi*

Peringatan Hari Lahir Pancasila tanggal 1 Juni 2020 hendaknya  menjadi sebuah “oase”  di tengah kondisi wabah atau pageblugCovid 19 yang melanda bangsa  kita. Lebih mengerikan lagi, kehadiran wabah ideologi liberalisme ekstrim dan fundamentalisme ekstrim yang membawa malapetaka bagi kehidupan bangsa sesungguhnya dapat dihindari apabila pemegang otoritas kekuasaan negeri ini menjalankan Pancasila dan UUD 1945 secara konsisten.

Adanya wabah ideologi itu tidak berbeda jauh dengan kemunculan virus Corona. Lewat beragam kelompok yang berideologi fundamentalis dan menghalalkan kekerasan merupakan dampak dari ketidak-konsistenan aparatur negara dalam mengimplementasikan Pancasila dan UUD 1945.

Di sisi lain, arus kehidupan sosial liberalisasi tidak dapat mereka bendung. Hal itulah yang menyebabkan kaum fundamentalis seakan mendapat peluang untuk hadir di tengah mereka yang menjadi korban liberalisasi serta merasa tidak menemukan ekspresi perlawanan yang memadai dari ideologi Pancasila terhadap virus dan liberalisme.

Solusi dari masalah itu adalah reaktualisasi dan refleksi Pancasila sebagai ideologi negara untuk merealisasikan cita-cita kemerdekaan dan tujuan nasional bangsa Indonesia serta menjamin ke-bhinnekaan untuk menangkal pengaruh negatif dari ideologi asing yang tidak sesuai dengan pribadi bangsa. Peringatan hari Lahir Pancasila sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara. Harus ada proses internalisasi, enkulturasi dan sosialisasi nilai Pancasila dalam semua lapisan masyarakat Indonesia meski dalam kungkungan psical distancing dan social distancing.

Pendidikan Pancasila yang kini adalagi di kurikulum lini pendidikan perlu dihidupkan kembali dan jangan hanya menjadi bagian dari kurikulum lain. Sehingga melalui proses pendidikan karakter dan kesadaran dan kebanggaan berbangsa Indonesia tumbuh, khususnya nation and character building, tumbuh bela negara, kemampuan memfilter pengaruh budaya dari luar, penghargaan atas kekayaan dan kreativitas bangsa.

Kita harus mampu mewujudkan cita-cita Pancasila yakni dua pilar utama. Pertama, kemerdekaan ekonomi dan politik dalam bentuk kemandirian dan kemampuan untuk berdikari secara ekonomi dan politik. Kedua, kemerdekaan eksistensial berupa kemampuan untuk mewujudkan dirinya sendiri, untuk menjalani hidup sendiri lepas dari ketergantungan dengan orang atau pihak lain. Wujud dari cita-cita moral ini diungkapkan dalam bentuk menjadi tuan atas diri sendiri dan menjadi tuan atas miliknya sendiri.

Operasionalisasi Pancasila, terutama mengembangkannya sebagai sebuah sistem ekonomi yang bertumpu pada kekuatan rakyat Indonesia dan membangun sistem ekonomi Pancasila, ekonomi Indonesia dibangun tanpa menggantungkan kekuatan ekonomi asing, baik utang luar negeri maupun impor. Modal asing hanyalah faktor pendukung ekonomi nasional bukan tulang punggung pembangunan ekonomi nasional. Kekuatan ekonomi Indonesia adalah pada rakyat, baik tenaga kerjanya, alat produksinya, maupun pasarnya yang potensial. Oleh karena itu, ekonomi Indonesia harus tertuju pada penguatan kekuatan ekonomi rakyat berupa modal, manajemen, keterampilan, teknologi, kemitraan, informasi dan pengembangan pasar.

Konsistensi seluruh lembaga negara dalam mengimplementasikan Pancasila sebagai dasar negara yang final Terlebih kedudukan Pancasila telah memiliki legitimasi filosofis, yuridis dan politis yakni kesepakatan The Founding Fathers kita pada tanggal 18 Agustus 1945 yang yang telah menetapkan Pancasila sebagai dasar filsafat Negara. Sebagai ideologi bangsa sehingga Pancasila sebagai Staatsfundamental norm (Notonagoro, 1975) memiliki konsekuensi bahwa nilai-nilai Pancasila secara yuridis harus diderivasikan ke dalam UUD Negara RI dan seiuruh peraturan perundang-undangan lainnya.

Nilai-nilai Pancasila iuga harus tercermin dalam setiap kebijakan pemerintah. Pancasila harus menjadi tolak-ukur filosofi dan ideologis bagi pembuatan dan pelaksanaan semua kebijakan publik yang didasarkan atas kondisi, potensi, dan posisi riil wilayah RI. Sehingga keberpihakan negara kepada kesej ahterau”‘uityll aapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Rakyat Indonesia menanti hadirnya negara kehidupan mereka. Konsekuensinya, perubahan dari liberalisme menuju pada substansi Pancasila dalam haluan 1 Juni1945 mutlak dibutuhkan guna mencapai tujuan-tujuan nasional yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 serta menutup peluang munculnya faham keagamaan yang ekstrim. Solusii empat pilar kehidupan bernegara (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal lka), yang dilakukan lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat Repubiik Indonesia tentu kita sambut baik. Tetapi hendaknya hal tersebut perlu kita dorong meniadi gerakan bersama sehingga tidak berhenti sebatas slogan atau jargon kosong tanpa konkritisasi.

Peringatan Hari Lahir Pancasila hari ini semoga dapat menjadi awal kebangkitan bangsa dari segala cobaan pageblug corona krisis kesejahteraan sosial dan kebangsaan yang melanda kita selama ini menuju Indonesia yang kita cita-citakan, Indonesia yang adil dan makmur.

*Penulis adalah Dosen di Fakultas Politik Unsiq Wonosobo, Jawa Tengah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s