Bisakah Kita Melakukan Kejahatan Pada Diri Sendiri ?

Oleh Faid Nawawi

Pertanyaan ini nempel diotak saya sudah dari beberapa bulan yang lalu. Saat itu sepertinya saya sedang dalam kondisi drop dan secara tidak disadari perlahan saya menutup diri dari dunia luar, memutus komunikasi dari orang-orang disekitar saya. Entah mendapat ide dari mana, saya merasa telah melakukan kejahatan pada diri sendiri atau self-crime.

Berhubung saya adalah sarjana kriminologi, dapur pacu otak saya secara otomatis menangkap sinyal crime-related activity, tapi sejauh saya menempuh pendidikan di bangku kuliah, saya tidak menemukan secara gamblang terdapat konsep self-crime, kalau mungkin ada berarti saya kurang banyak bergaul dengan jurnal dan textbook Kriminologi (Padahal setiap harinya saja tidak kurang dari 2 jurnal ilmiah yang menjadi santapan utama kami).

Karena rasa penasaran, Mbah Google-lah yang jadi solusinya. Dari situs Quora yang memungkinkan penggunanya untuk bertanya dan menjawab berbagai macam hal, saya menemukan seseorang yang bertanya hal serupa. Dikutip dari salah satu jawaban, menurut pengguna situs yang bernama Marlys Keenan dari Northeastern University, tindakan yang paling sering dikaitkan dengan konsep self-crime adalah tindakan bunuh diri dan prostitusi. Namun ia juga menambahkan bahwa kedua tindakan tersebut tidak seharusnya mendapat hukuman.

Tidak jauh beda, salah satu sumber juga menyebutkan perilaku masturbasi sebagai salah satu bentuk self-crime. Namun, karena sumbernya kurang terpercaya saya putuskan untuk tidak menyebutkannya, dan jangan dipercaya begitu saja.

Tidak puas dengan jawaban-jawaban tersebut, menggunakan kemampuan investigasi yang saya asah di bangku kuliah, ketemulah dengan sebuah artikel yang dimuat di laman Huffpost dengan menggunakan kata kunci crimes against yourself (Salah satu trik mencari informasi yang spesifik, dengan mencari menggunakan padanan kata atau kalimat dari kata kunci yang kita pegang). Setelah membaca dengan seksama, ketemulah dengan istilah self-loathing/membenci diri sendiri, merasa diri tidak layak akan semua hal. Dimana konsep ini adalah konsep dari bidang ilmu Psikologi. Pantas saja saya tidak bisa menemukannya dalam kamus istilah-istilah Kriminologi.

Dalam pembahasannya, Anneli Rufus penulis buku Unworthy: How to Stop Hating Yourself ini menuturkan sesuatu yang bagi saya cukup membuat kening berkerut. Self-loathing bisa dikatakan krisis yang mengikuti kemana saja kita pergi, seperti parasit yang enggan terlepas. Menurutnya satu hal yang perlu dipahami ketika membahas mengenai hal ini adalah, pemahaman kita bahwa ini merupakan pertarungan antara kita melawan diri kita. Kita yang membuat diri kita menderita, kita yang menjadi korban, kita-pun yang menjadi saksinya, dan kita juga yang menghukum diri kita. Artinya kita menjadi pelaku, korban, sekaligus saksi atas kejahatan kita sendiri.

Sekarang mari kita mencoba memahami bersama pendefinisian self-loathing yang dibandingkan dengan konsep kejahatan untuk menjawab pertanyaan di awal artikel. Maaf, saya ralat konsep jahat menurut satu hal yang dipunyai oleh semua manusia, common sense. Dimana merupakan batas paling mudah bagi manusia untuk memahami suatu hal. Di sini, saya tidak akan membandingkan dengan definisi kejahatan oleh hukum atau disebutnya tindak pidana. Kenapa? Sederhananya, hukum adalah produk pemerintah, definisi tindak pidana adalah dibuat oleh pihak yang berkuasa. Lantas kenapa kalau hukum adalah produk pemerintah? Singkatnya, jika pemerintah membuat hukum yang isinya siapa saja yang mengkritisi pemerintah dalam bentuk dan media apapun akan dipidana, maka kamu akan terhitung melakukan kejahatan dan diberi julukan penjahat jika kamu mengkritisi pemerintah. Padahal negara kita menganut paham demokrasi, misalnya.

Mari kembali ke pembahasan utama kita. Diambil dari kamus Merriam- Webster, self-loathing didefinisikan sebagai loathing of oneself : self-hatred, atau bisa diartikan sebagai kebencian terhadap diri sendiri.

Maksudnya bagaimana? Kebencian yang seperti apa? Bentuknya bagaimana? Tunggu sabar dulu.

Artikel dari situs Lonerwolf mungkin bisa sedikit memberikan gambaran bentuk kebencian yang dimaksud. Ada sejumlah 15 sikap-sikap dan perilaku yang bisa menandakan self-loathing, beberapa diantaranya adalah, berbicara kasar terhadap diri sendiri (Misalnya “Saya bodoh!”), menelantarkan kesehatan tubuh, sabotase diri (Misalnya, tidak membiarkan diri bahagia), menolak pujian/nasehat dan bantuan, merasa menjadi korban setiap saat, mengisolasi diri, dan beberapa lainnya.

Nah, di sini saya sempat terhenti menbaca artikel tersebut, dalam hati saya berkata “Hmmm… berarti beberapa waktu lalu saya mengalami gejala self-loathing yaitu mengisolasi diri” Kemudian saya berpikir “Apakah saya masih dalam kondisi self-loathing?” Kalau ini biar jawabannya untuk dikonsumsi saya sendiri saja.

Selanjutnya, sekarang kita mencoba bertanya pada diri kita, pada common sense kita “Apakah sikap-sikap dan perilaku yang disebutkan di atas masuk dalam definisi jahat menurut kalian?” Kalau masih susah, coba begini, kita ambil contoh satu sikap dari 15 daftar di atas. Mengisolasi diri, coba kita ubah subjeknya jadi orang lain bukan diri kita. Bayangkan kamu dengan sengaja mengisolasi teman kamu, meninggalkan dia di sebuah pulau, sendirian tanpa akses terhadap dunia luar. Apakah itu sikap dan perilaku jahat? Common sense saya mengtakan itu sikap dan perilaku jahat. Cinta (tokoh dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2) saja yang hanya diputus aksesnya untuk menghubungi Rangga, justeru berkata bahwa apa yang Rangga lakukan itu jahat.

Coba kita lihat lebih dalam lagi. Dengan mengisolasi diri, artinya kita menutup akses pada dunia luar, memutus akases pada kesempatan-kesempatan yang tersedia. Bisa saja, kamu seharusnya balikan sama mantan kalau kamu tetap membuka akses diri setelah putus, karena ternyata dia hanya salah paham. Atau bisa saja seharusnya kamu mendapat tawaran pekerjaan, tapi karena kamu menutup akses diri selama masa pandemik ini misalnya, alhasil pekerjaan itu gagal menjadi milikmu. Bukankah itu semua merugikan kamu? Bukankah sikap self-loathing itu jahat sama diri kamu?

Sekarang, saya tinggal bertanya lagi pada kalian hal yang sama, Bisakah kita melakukan kejahatan pada diri sendiri?

***

Penulis: Faid Nawawi, Kriminolog yang tinggal di kawasan Dieng Wonosobo.

Bachelor of Criminolgy, Faculty of Social and Political Science, Universitas Indonesia

*Illustrasi Self Crime oleh Faid Nawawi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s