Nasib Tahun Ajaran Baru Dan Sulitnya Belajar Online

~ Oleh Shela Kusuma Wardhani

Pandemi Corona nyatanya terjadi merata di seluruh dunia dan menuntun pemerintah melakukan tindakan pencegahan agar tidak semakin banyak masyarakat yang tertular virus.  Upaya pemerintah yang paling penting dan harus ditaati oleh penduduknya yakni menjaga jarak. Dengan diterapkannya aturan untuk menjaga jarak, kini penduduk melakukan WFH (Work From Home) atau kerja dari rumah. Demikian pula dalam dunia pendidikan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, memiliki keputusan terkait pembelajaran ditengah kasus covid-19 seperti ini.

Salah satu keputusannya adalah terkait pembelajaran online pada jenjang kuliah. Nadiem berpendapat bahwa meskipun berada di zona hijau, proses belajar mengajar harus dilaksanakan secara online. Hal  ini dikarenakan dalam dunia perkuliahan, proses belajar mengajar secara online lebih mudah diterapkan dan memiliki kendala yang lebih sedikit dibanding pada jenjang menengah dan dasar. Namun, terkait praktek, penelitian, studio, dan lain-lain yang membutuhkan peralatan dapat dilakukan secara tatap muka di kampus dengan prosedur kesehatan yang benar. Terkait adanya keputusan ini, adapun kendala yang dihadapi ketika pembelajaran berlangsung secara online serta solusi yang ditawarkan guna mencapai pembelajaran yang efektif dan efisien.

Kendala belajar online dirasakan pada dosen ataupun guru. Pada era modern seperti ini masih banyak ada saja dosen yang gagap teknologi. Mereka harus belajar mulai dari awal agar dapat menyampaikan materi secara online. Hal ini tentunya akan memakan waktu yang lama dan membuat kegiatan belajar menjaadi tidak efektif. Kendala dosen dan guru ketika melakukan pembelajaran secara online yang banyak saya temui yakni ada pada ketidaktahuan guru dalam mengoperasikan suatu media pembelajaran berbasis aplikasi. Mereka sering kali melakukan kesalahan dalam menggunakan fitur yang telah diberikan oleh aplikasi. Misalnya, sebuah aplikasi memberikan fitur bagi dosen untuk memberikan tugas bagi mahasiswa atau muridnya tetapi oleh dosen malah digunakan untuk menyampaikan materi. Hal ini membuat mahasiswa kebingungan dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap tugas tersebut. Dari kejadian diatas, seharusnya dosen yang gagap teknologi perlu dibimbing dalam hal teknologi agar selanjutnya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti sekarang ini dosen sudah siap memberikan materi secara online yang efektif dan efisien.

Kendala kedua yakni ada pada mahasiswa atau siswanya. Banyak dari mereka yang bermalas-malasan ketika melakukan pembelajaran online. Hal ini dikarenakan mahasiswa merasa dosen tidak akan tahu bahwa ia tidak mengikuti pembelajaran dengan baik, yang terpenting adalah mereka sudah absen dan dinyatakan hadir. Miris rasanya ketika saya membaca salah satu curhatan dari anak dosen yang bercerita tentang ibunya yang merupakan dosen di salah satu universitas di Indonesia. Dosen tersebut bersusah payah membuat materi hingga larut malam serta belajar teknologi agar dapat menyampaikan materi dengan sistem online. Akan tetapi, oleh muridnya malah ditinggal tidur dan tidak menyimak materi dari dosen sama sekali. Hal tersebut membuat  dosen merasa sedih dan tidak dihargai. Kondisi seperti ini dapat diatasi oleh dosen atau untuk bersikap lebih tegas dan melakukan kegiatan belajar mengajar dengan aplikasi video call agar dosen dapat memantau mahasiswa ketika proses pembelajaran berlangsung. Selain itu, dari mahasiswa sendiri dapat memberikan motivasi terhadap diri sendiri agar tidak bermalas-malasan dan mengatur jadwal agar semangat menjalani kegiatan belajar supaya tidak kembali tidur.

Kendala ketiga yakni fasilitas yang tidak mencukupi selama melakukan pembelajaran online. Fasilitas disini meliputi smartphone, jaringan, serta kuota yang dibutuhkan agar dapat mengakses internet guna melaksanakan pembelajaran. Untuk smartphone, biasanya tidak ada kendala karena rata-rata setiap orang memiliki smartphone sendiri. Berdasarkan pengalaman saya beserta teman-teman lainnya kesulitan mengakses internet banyak ditemukan pada jaringan. Untuk dosen dan mahasiswa yang berada di pelosok pastinya sinyal merupakan masalah utama terhambatnya pembelajaran. Jika tidak ada sinyal, dosen tidak dapat menyampaikan materi serta mengawasi kegiatan belajar.

Begitu juga dengan mahasiswa, apabila tidak ada sinyal maka mahasiswa akan kesulitan mengakses materi yang telah diberikan oleh dosen. Masalah lain yang dialami mahasiswa yaitu mereka dinyatakan tidak hadir meskipun sebenarnya mereka hadir tetapi telat untuk melakukan presensi karena sinyal yang tidak bagus. Namun, untuk masalah  sinyal sulit untuk menyamakan kekuatan sinyal akibat  perbedaan kondisi geografis oleh masing-masing mahasiswa. Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat mengatasi hal ini secepatnya agar semakin banyak daerah yang memiliki sinyal kuat. Tidak hanya sinyal, selama pembelajaran online kebutuhan kuota naik drastis. Hal ini disebabkan pembelajaran online menghabiskan banyak kuota apalagi jika melakukan video call. Berdasarkan peristiwa diatas, wajar bagi para mahasiswa dan murid meminta penurunan uang UKT ataupun SPP guna mengganti pembelian kuota yang selama ini mereka pakai untuk kegiatan belajar online.

Kendala keempat yakni kurangnya peran orangtua dalam mengawasi serta membimbing anaknya ketika melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara online. Pada saat pandemi dan pembelajaran dilakukan secara online seperti ini, orang tua memiliki peran serta tanggung jawab yang besar untuk anaknya. Namun, faktanya masih banyak orang tua yang acuh tak acuh terhadap anaknya. Mereka membiarkian anaknya bermain HP sendiri tanpa pengawasan yang ketat. Masih banyaknya mahasiswa yang malas-malasan serta tidur pada saat belajar online juga dipengaruhi oleh faktor orang tua yang lalai dalam mengawasi anaknya. Apabila orang tua melakukan pengawasan yang baik, maka hal seperti ini tidak akan terjadi. Apalagi, yang dapat memantau serta mendampingi mahasiswa selama kuliah online hanyalah orang tua.

Begitulah realita kegiatan belajar mengajar yang dihadapi masyarakat ditengah pandemi dalam bidang pendidikan. Masih banyak hal-hal yang perlu dibenahi agar kegiatan belajar mengajar pada tahun ajaran baru yang dilakukan secara online dapat berjalan dengan lancar dan efektif. Nasib pendidikan di Indonesia tidak boleh mundur akibat dari pandemi seperti sekarang iini. Peran dan partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan agar pendidikan di Indonesia tetap berkembang.

Penulis adalah Mahasiswi Prodi Pendidikan Kimia Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s