Permukiman Terdampak Tambang Galian C

Oleh: Diva Ranindya Fauzita*

Permasalahan lingkungan menjadi salah satu topik bahasan yang luas dan seakan tidak ada habisnya di Wonosobo. Banyak orang maupun lembaga yang berlomba-lomba meningkatkan kontribusinya akan lingkungan. Umumnya, hal tersebut didasari oleh permasalahan di lingkungan sekitar. Permasalahan lingkungan terbagi dalam beberapa aspek. Misalnya pencemaran yang diakibatkan polusi udara, tanah, maupun sumber air.

Faktanya permasalahan lingkungan pada masing-masing daerah di Indonesia umumnya berbeda, karena perbedaan faktor alam, letak geografisnya, serta perilaku manusianya misalnya pada kondisi ekonomi. Di Provinsi Jawa Tengah, khususnya Kota Wonosobo terdapat salah satu permasalahan yang cukup pelik dan urgen diselesaikan karena menimbulkan kerusakan pada lingkungan. Contohnya adalah aktivitas penambangan ilegal galian C yang ada di Wonosobo, beberapa ada di kawasan lereng gunung dan juga di Desa Andongsili yang tidak jauh dari permukiman warga. Contoh material yang termasuk dalam galian C adalah batuan, pasir, tanah urug, kerikil sungai, hingga kerikil galian dari bukit.

Aktivitas penambangan tersebut tentu mengakibatkan kerusakan lingkungan karena aktivitas manusia yang melakukan penambangan ilegal galian C di Desa Andongsili. Alasan masyarakat melakukan penambangan biasanya disebabkan oleh faktor ekonomi dan keterampilan masyarakatnya, sehingga melakukan aktivitas penambangan. Dampak yang ditimbulkan dari aktivitas penambangan untuk lingkungan tentunya adalah lahan disekitar tempat galian menjadi kering dan tandus. Selain itu, contoh kerusakan lingkungan lainnya seperti hilangnya banyak sumber mata air, rusaknya jalan di sekitar lokasi yang dilalui oleh truk pengangkut material pasir dari galian C ilegal, serta keamanan pekerja galian C ilegal yang kurang berprosedur.

Sebenarnya, sudah ada regulasi mengenai peraturan aktivitas penambangan, seperti prosedur menambang, batas maksimal jumlah yang diambil sampai peraturan mengkonservasi bekas lokasi galian. Namun nyatanya, sampai saat ini belum ada pengusaha atau badan usaha yang mengajukan izin penambangan galian C di Kabupaten Wonosobo dan penambang tidak mengkonservasi lokasi bekas galian. Sehingga kesannya, lokasi tersebut menjadi lahan terbuka bebas yang bisa dieksploitasi oleh siapa saja.

Solusi yang dapat dilakukan yaitu penegasan dan penjelasan mengenai regulasi aktivitas penambangan oleh pemerintah daerah serta aparat penegak hukum harus benar-benar tegas dalam menindak aktivitas penambangan tersebut. Cara lainnya yaitu dengan mengalihfungsikan lahan penambangan menjadi lokasi wisata yang dikelola pemerintah setempat. Seperti halnya tempat wisata yang terletak di Semarang yaitu Brown Canyon dan Tebing Breksi di Yogyakarta yang dapat menarik perhatian wisatawan karena keunikan tempatnya.

Sebenarnya dengan formulasi yang sama, aktivitas penambangan di Andongsili sangat mungkin bisa dihentikan. Masyarakat yang tadinya bermatapercaharian sebagai penambang dapat beralih profesi menjadi pemandu wisata, penjual di sekitar bekas galian, hingga pengelola tempat bekas galian C. Hal tersebut dapat menjadi solusi alternatif dalam mengatasi permasalahan lingkungan yang ada di Desa Andongsili. Itu semua bisa terwujud jika semua pihak serius dalam penghentian perusakan lingkungan yang hingga kini masih tidak selesai.

*Penulis adalah mahasiswi Teknik Lingkungan FTSP UII asal Wonosobo

https://betahngetrip.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s