PERPUSTAKAAN: Penyelamat Peradaban

Oleh Dwi Putranto Bimo Sasongko, S.Sos. MM,

Pada Tanggal 20 Juni 1812 Pasukan gabungan Inggris di bawah perintah Thomas Stamford Raffles menyerbu Keraton Yogyakarta dan berhasil menangkap Sultan Hamengkubuwono II. Raffles juga menghancurkan secara total kekuatan militer Yogyakarta sebagai sebuah kerajaan. Seluruh bangunan dibakar hingga musnah rata dengan tanah. Tidak hanya itu, seluruh kekayaan dan peninggalan karya seni bermutu tinggi dirampas dan dibawa oleh Inggris.

Lalu apa kaitan penyerbuan Inggris ke Keraton Yogyakarta dengan perpustakaan atau literasi? Dalam penyerbuan tersebut ikut pula dirampas semua literasi penting keraton berupa manuskrip dan catatan-catatan penting di balai penyimpanan yang bisa dikatakan perpustakaan keraton Yogyakarta pada waktu itu. Beberapa literasi penting lain juga tidak dapat terselamatkan dan ikut terbakar dalam epos paling kelam sejarah Dinasti Mataram.

Perampasan manuskrip atau literasi dalam berbagai bentuk oleh Inggris tidak dilakukan serampangan tanpa tujuan. Negara-negara barat sangat paham dengan “bahaya” nya literasi bagi sebuah kejayaan bangsa. Oleh karena itu penghancuran jati diri bangsa dengan memusnahkan semua buku atau literasi yang berisi sejarah, legenda, ilmu pengetahuan, agama, dan lain sebagainya sehingga tidak ada lagi kebanggaan yang tersisa untuk diketahui rakyat dan generasi penerus. Selanjutnya untuk kemudian sebuah bangsa akan lebih mudah diperbudak, dibodohi, dan “ditekan” tingkat nasionalisme terhadap negerinya.

Strategi penghancuran peradaban sebuah bangsa lewat pemusnahan buku atau literasi juga dilakukan Inggris ketika menang perang dengan Kerajaan Cina pada epic Perang Candu Kedua Tahun 1856-1860. Pasukan Inggris membakar dan merampas buku-buku penting di perpustakaan Kerajaan Cina pada waktu itu dan membakar Istana Yitheyuan dan Istana Yuanmingyuan. Penjarahan dan pembakaran ini tercatat dalam sejarah dan masih dikenang oleh Bangsa Tiongkok sampai sekarang.

Apakah stategi penghancuran semangat kebangsaan lewat penghancuran jejak literasi oleh Inggris berhasil? Bisa kita jawab sangat berhasil. Ngayogyakarta Hadiningrat setelah itu sudah tidak bisa bangkit lagi dan harus tunduk kepada pejabat Inggris yang tingkatnya sekelas Residen dan itu berlanjut sampai era Belanda berakhir. Sedangkan Dinasti Qing di Cina akhirnya terus kehilangan pengaruh dan hancur pada Tahun 1911 akibat pengaruh Republik yang dipimpin oleh Sun Yat sen.

Masih banyak contoh lain penghancuran peradaban dengan menghilangkan bukti literasi sejarah guna memuluskan pendudukan penjajahan seperti hilangnya literasi peradaban Suku Indian akibat penyerbuan bangsa asing di Benua Amerika, kemudian Suku Aborigin di Australia, serta akhir Kejayaan Kekhalifahan Abbasiyah dengan penghancuran perpustakaan Baghdad Bait al-Hikmah oleh Tentara Mongol. Pada intinya menghancurkan mental dan peradaban sebuah bangsa dimulai dari penghancuran sumber keilmuan mereka yaitu perpustakaan. Perpustakaan merupakan komponen inti dalam menjadi penjaga kebanggan dan kemajuan negeri. Adakah negara adidaya atau negara maju pada era modern ini yang perpustakaannya tidak menjadi sebuah prioritas? Adakah negara adidaya atau negara maju yang minat dan budayanya rendah? Tidak ada bukan? Jika ingin “menjajah” sebuah negeri, jadikan masyarakatnya minat dan budaya bacanya rendah dengan cara  hancurkan dulu perpustakannya.

Di Kabupaten Wonosobo sekarang sedang terjadi “kegerahan” dalam menelusuri sejarah masa lalu wilayah Wonosobo. Sangat minimnya bukti sejarah yang valid dalam bentuk tulisan, menjadikan sejarah masa lalu Wonosobo masuk pada romantisme sejarah dalam artian mentasbihkan tokoh-tokoh masa lalu dalam “kesejarahan Wonsobo” dengan dasar legenda dan mitos. Hal tersebut dilakukan dikarenakan memang sangat sulit menemukan bukti literasi sejarah Wonosobo di masa silam. Tentunya dari paparan dalam tulisan ini dapat ditarik suatu hipotes bahwa ketiadaan literasi tertulis tentang Wonosobo di masa silam juga terkait dengan strategi kolonialisme para penjajah di Nusantara yang mungkin sudah merampas, memusnahkan, atau membatasi literasi-literasi yang mungkin bisa merugikan kepentingan mereka.

Selain itu mungkin harus kita ketahui juga bahwa Perpustakaan Umum Kabupaten Wonosobo baru ada atau berdiri pada Tahun 1990. Dengan dasar pemikiran ini, maka disimpan di manakah semua literasi masa lalu Wonosobo baik produk penjajah ataupun produk pribumi sebelum Tahun 1990? Pada realitasnya sampai saat ini masih sangat-sangat sedikit buku ataupun bentuk literasi lain yang berhubungan dengan Wonosobo di masa lalu tersimpan di Wonosobo Corner Perpustakaan Umum Kabupaten Wonosobo.

Pada akhirnya marilah kita bersama-sama menyadari pentingnya keberadaan perpustakaan di sekitar kita untuk memberikan dasar kokoh bagi kemajuan bangsa. Membangun perpustakaan untuk kerberlangsungan bangsa memang tidak bisa dilihat hasilnya secara kasat mata seperti pembangunan fisik, namun efeknya akan bener-benar terasa ketika generasi mendatang mampu menjadi pemimpin bukan menjadi pengekor. Mari, selamatkan perpustakaan demi generasi esok.Salam.

Penulis: Dwi Putranto Bimo Sasongko, S.Sos. MM,

Pustakawan Madya, Perpustakaan Umum Kab.Wonosobo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s