Berdamai dengan “The Geography of Bliss”

Buku yang Jujur, mungkin dengan sedikit tendensi, dan membuka sudut pandang.

Menurut saya, buku bertajuk Geografi Kebahagiaan alias  The Geography of Bliss karya Eric Weiner ini layak untuk menjadi buku koleksi bagi saiapapun yang sering hunting buku terjemahan. Saya sendiri menyelesaikan buku ini dalam waktu kurang lebih 5 bulan (cukup lama). Karena karakter saya memang tidak bisa menyempatkan membaca buku, saya hanya membaca saat saya sempat dan saya ingin.

Oya, memulai resensi buku tebal ini, saya ingin protes satu hal yang menjengkelkan dari cetakan fisik buku ini di Indonesia, covernya yang sulit sekali mengikuti keinginan kita ketika selesai membacanya. Dia selalu menolak untuk ditutup, atau tepatnya anda akan tahu sendiri nanti.

Saat saya membaca buku ini, kebetulan saya juga dalam proses memahami budaya yang dekat dengan jati diri saya, dari budaya Nusantara hingga budaya bangsa lain yang saya kenal. Seperti teman-teman turis asing yang singgah kerumah. Mereka kebanyakan dari Eropa dan Australia. Mereka banyak membagi hal yang sebenarnya sama dengan apa yang dituliskan Eric Weiner. Meskipun kerap dalam bahasa dan ekspresi yang berbeda, tapi pada intinya mereka membahas: Kebahagiaan.

Lewat buku ini, saya baru tahu ada peneliti kebahagiaan bahkan dia cukup serius. Tadinya saya kira bidang ini hanya sekedar gurauan, tetapi ternyata memang ada. Bahkan menurut saya, Eric adalah salah satu penulis yang terlahir dengan gaya menulis alami. Ketika membacanya, kita seperti sedang membaca jurnal atau memoir yang menyampaikan banyak sekali hal yang belum pernah saya temui di catatan lainnya. Apalagi pelajaran budaya yang saya terima mayoritas berasal dari menonton Film atau tayangan Televisi.

Gaya penulis ini bagi saya sangat manusiawi dan membumi, meski terkesan personalitas Eric sangat kental dalam memberi gambaran dari sudut pandangnya. Dia bisa dikategorikan sebagai seorang yang ‘grumpy’ atau bagi saya lebih kea pa adanya dan semua hal yang ditemuinya diukur berdasarkan rasa suka atau tidak sukanya. Namun karakter khas seorang reporter masih terlihat jelas pada caranya menggambarkan situasi. Sesuai dengan bahasan utama buku ini, yakni Kebahagiaan, maka kita harus tunduk pada hukum relativitas karena semua orang terlahir berbeda.

Banyak sekali fragmen kisah di beberapa negara yang membuat saya tertawa pada buku ini, terutama saat penulis berinteraksi dengan sumber-sumber lokal yang membuka matanya pada hal baru. Tetapi, penulis berhasil menjadi dirinya sendiri dan tidak terjebak pada sudut pandang ‘aktor utama’ seperti kebanyakan buku, ini yang membuat saya merekomendasikan buku ini untuk teman-teman yang suka membaca buku tebal.

Ketebalan buku ini, sekali lagi, bukan karena panjang-pendeknya pembahasan tapi karena banyaknya Negara yang Eric jelajahi. Tapi sayang sekali Eric tidak meneliti Indonesia. Padahal Eric telah menemukan berbagai hal ‘nyeleneh’ di India. Salah satu kesimpulan yang saya dapat dan cukup menggemparkan ialah bahwa semakin miskin Negara itu, bisa jadi indeks kebahagiaannya semakin tinggi. Tapi ketika membaca tentang Bhutan, definisi kemiskinan itu saya revisi lagi. Semuanya terkait dengan alam dan kepercayaan manusianya. Singkatnya lagi kesejatian diri di luar kemajuan-kemajuan yang lahir dari peradaban manusia. Atau saya ekstraksikan dalam satu kata: KESEDERHANAAN.

Tetapi tidak adil jika saya hakimi atau saya bedah buku itu di seluruh tulisan saya, maka saya sisakan ruang bagi pembaca sekalian untuk merasa penasaran hingga menemukan bukunya sendiri lalu membacanya sampai selesai. Ohya, saya sertakan kutipan dari penerbit hingga beberapa media yang meliputnya. Selamat membaca.

Catatan Penerbit:

Sungguh mati, Eric Weiner ingin melihat dunia, terutama dengan dana dari pihak lain. Maka ia menjadi jurnalis, membawa tas punggung dan buku catatannya, lalu menjelajahi dunia. Hasilnya adalah buku The Geography of Bliss ini. Ia membawa pembaca melanglangbuana ke berbagai negara, dari Belanda, Swiss, Bhutan, hingga Qatar, Islandia, India, dan Amerika … untuk mencari tahu apa yang membuat orang-orang di sana bahagia atau murung. Buku ini adalah campuran aneh tulisan perjalanan, psikologi, sains, dan humor.

Apakah orang-orang di Swiss lebih bahagia karena negara mereka paling demokratis di dunia? Apakah penduduk Qatar menemukan kebahagiaan di tengah gelimang dolar dari minyak mereka? Apakah Raja Bhutan seorang pengkhayal karena berinisiatif memakai indikator kebahagiaan rakyat yang disebut Gross National Happiness sebagai prioritas nasional? Kenapa penduduk di Islandia, yang suhunya sangat dingin dan jauh dari mana-mana, termasuk negara yang warganya paling bahagia di dunia? Kenapa di India kebahagiaan dan kesengsaraan bisa hidup berdampingan?

Ditulis dengan wawasan yang dalam dan kocak, buku ini membawa pembaca ke tempat-tempat yang aneh dan bertemu dengan orang-orang yang, anehnya, tampak akrab. Sebuah bacaan ringan yang sekaligus memancing intelektualitas pembaca.

 

“Lucu, mencerahkan, mengagumkan.”

—Washington Post Book World

“Tulisan yang menyentuh …mendalam …buku yang hebat!”

—National Geographic

“Selalu ada pencerahan di setiap halaman buku ini.”

—Los Angeles Times

Links:

Eric Weiner’s: http://www.ericweinerbooks.com/books/the-geography-of-bliss/description/

Data Teknis Buku:

Diterbitkan pertama kali pada: January 2008

Penulis: Eric Weiner

OCLC: 164803474

Jumlah Halaman: 329 pages; (Edisi pertama Hardcover)

Genre: Non-fiksi, Travel literature

 

Penulis: Erwin Abdillah

Jurnalis Magelang Ekspres dan anggota Dewan Riset Wonosobo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s