Menyiapkan Calon Engineer, Tanamkan Pemahaman Geometri Sejak Dini

Oleh: Ragil Tri Indrawati dan Rina Mahmudati*

Dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi era Revolusi Industri 4.0, diperlukan berbagai upaya diseluruh sektor, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan. Stakeholder di bidang pendidikan diharapkan mampu mencetak sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi untuk masuk ke dunia industri yang semakin berkembang dengan cepat dan dinamis. Begitu pula dengan pertumbuhan industri saat ini.

Profesi sebagai engineer saat ini merupakan salah satu profesi yang diidamkan oleh kalangan anak muda. Menjadi seorang engineer diperlukan kemampuan bermatematika yang lebih dibanding dengan profesi lain. Salah satu cabang matematika yang perlu untuk dikuasai ialah geometri. Hal ini karena seorang engineer harus mampu menginterpretasikan bentuk bangun ruang maupun bangun datar. Hal ini berkaitan dengan sketsa gambar maupun gambar teknik.

Pada kenyataannya, masih sering terjadi mis-konsepsi mengenai geometri di setiap jenjang pendidikan. Mis-konsepsi mengenai geometri juga berdampak pada rendahnya daya serap nilai UN SMA di skala nasional pada materi geometri, yaitu sebesar 37,45% (LPMP Banten, 2017). Artinya, lebih dari setengah peserta UN tidak mampu menyelesaikan permasalahan geometri. Rendahnya daya serap materi geometri disinyalir karena kurangnya pemahaman konsep yang benar mengenai geometri.

Hal ini dapat diminimalisir dengan memberikan pemahaman konsep geometri yang tepat sejak dini. Usia dini merupakan masa emas atau golden age dalam seluruh rangkaian perkembangan manusia, dimana pemahaman mengenai informasi dan pengetahuan sangat mudah untuk diserap dan dicerna secara maksimal. Proses penyerapan informasi dan pengetahuan pada anak usia dini (AUD) dilakukan dengan cara bermain sambil belajar. Maka diperlukan media yang kreatif serta inovatif yang dapat dengan mudah dimengerti oleh anak. Dengan demikian, guru sebagai fasilitator kegiatan belajar di sekolah harus mampu menjawab tantangan ini.

Menjawab permasalahan tersebut, maka perlu diciptakan suatu media kreatif dan inovatif untuk mendukung kegiatan belajar siswa dalam pemahaman geometri. Salah satu media tersebut berupa Tangram dan Rainbow Geometry. Tangram merupakan teka-teki yang dibedah yang terdiri dari tujuh potongan geometri yaitu persegi, jajar genjang, dua segitiga besar, segitiga siku-siku, dan dua segitiga kecil. Berbagai bentuk geometri ini  juga bisa diatur dalam berbagai  posisi sehingga menyerupai  binatang, burung, makhluk laut, manusia atau tokoh lainnya.

Tangram bisa menjadi media pembelajaran manipulatif yang ideal dalam pengajaran geometri karena mampu mewakili materi pembelajaran secara konkret. Tangram memungkinkan anak mengembangkan konsep geometri, mengkategorikan, membandingkan dan mengerjakan teka-teki dan kemudian menyelesaikan masalah dalam  konteks geometri. Studi menunjukkan bahwa tangram mampu mengembangkan kemampuan  imajinasi, analisis bentuk, kreativitas dan pemikiran logis. Selain itu, bermain dengan tangram dapat membantu anak mengembangkan ketrampilan kosakata geometri, identifikasi bentuk, orientasi bentuk dan menemukan hubungan antara dua bentuk geometri. Pengalaman bermain sambil belajar seperti itulah yang sangat dibutuhkan bagi usia anak-anak.

Rainbow Geometry merupakan salah satu media pembelajaran bagi guru RA/Paud untuk menyampaikan materi geometri bangun ruang. Media ini terdiri dari kerangka bangun datar yang terbuat dari kayu, yang kemudian bagian sisi diselimuti dengan plastik mika beraneka warna. Kerangka bangun bisa berupa segiempat, segitiga, ataupun lingkaran. Dari masing-masing kerangka ini dapat digabungkan sehingga membentuk bangun bangun, bisa berupa kubus, balok, prisma, limas, tabung dan sebagainya. Pengalaman merakit dan menggabungkan kerangka ini dapat membuat siswa membangun konsep bangun ruang dengan sendiri sehingga menjadikan pembelajaran lebih bermakna. Kegiatan ini juga bisa memverifikasi kekeliruan siswa yang menyebut bangun persegi dan kubus dengan ’kotak’. Hasil akhir dari kegiatan ini, siswa dapat membedakan bangun datar dan bangun ruang melalui analisis bentuk. Kegiatan ini juga mampu melatih kemampuan siswa dalam ranah psikomotorik yaitu keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik.

Penggunaan tangram dan rainbow geometry sebagai media ajar untuk pemahaman geometri telah diterapkan oleh kolaborasi antara dosen Teknik Mesin dan Matematika yaitu Ragil Tri Indrawati, ST., MT dan Rina Mahmudati, M Pd di RA Perwanida dan RA Hj Maryam sebagai RA percontohan di Kabupaten Wonosobo. Kolaborasi dua disiplin ilmu ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dari segi disiplin ilmu keteknikan dan matematika.

Dari hasil penerapan media ajar pada guru dan siswa terlihat dampak positif. Hal ini terlihat dari hasil pembelajaran yang menunjukkan bahwa pemahaman geometri serta kemauan belajar siswa untuk mempelajari geometri mengalami peningkatan rata-rata sebesar 51%. Selain itu, guru lebih terampil dalam mengembangkan media ajar yang digunakan, sehingga membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik, terutama pada materi geometri. Kegiatan ini diharapkan mampu menanamkan konsep geometri secara benar sejak dini, sehingga mis-konsepsi geometri tidak lagi terjadi dan hasilnya dapat mencetak calon engineer yang mumpuni.

Penulis:

*Ragil Tri Indrawati ST MT, Dosen Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang & Rina Mahmudati, M.Pd Dosen Matematika Unsiq Jawa Tengah di Wonosobo.

Ditampilkan di Edisi Cetak Wonosobo Ekspres tanggal 15 April 2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s