Determinasi Sombong dan Tegas: Belajar Moralitas dari Historisitas

Oleh Crato

Ada perbedaan yang jelas antara tegas dan sombong. Tegas itu identik dengan menegakkan kebenaran pada suatu kondisi yang memungkinnya untuk melakukan perlawanan secara keras. Sedangkan sombong itu identik dengan rasa superior atas yang lain yang menyebabkan dia merasa paling benar, paling baik, dan paling indah. Seolah dia mempunyai hak merendahkan orang yang tidak sepakat dengan dirinya.

Perlu kehati-hatian ekstra dalam memahami fenomena ini. Karena jika tak memiliki kewaspadaan, kita dapat terjebak pada kesombongan daripada ketegasan. Dia seolah sedang memperjuangkan sesuatu namun sebenarnya dia sedang menyembah dirinya alias mengagungkan dirinya.

Sejarah telah membuktikan tokoh-tokoh yang menjalani jalan tegas, malah terjebak dalam kesombongan. Sebut saja yang agak dekat rentang waktunya dengan kita adalah Hitler dan Mussolini di masa Perang dunia kedua. Mereka adalah tokoh yang dielu-elukan memiliki kharisma yang tegas, membawa bangsanya pada kepercayaan-dirian namun sayangnya mereka kebablasan.

Hitler dan Mussolini adalah representasi dari pejuang yang kuat. Mereka memiliki kecerdasan yang tinggi, siasat yang kuat, profesionalitas yang tidak diragukan tapi narsismenya sangat tinggi. Rakyat Jerman semasa perang dunia adalah salah satu korban kekalahan perang yang perih. Dengan pembawaan yang berwibawa, Hitler menghimpun pemikiran dan tindakannya ke ranah ideologis. Semangat rakyat Jerman sebagai ras tertinggi menjadi dasar pijakannya. Bangsa Arya versi Hitler adalah bangsa yang seharusnya memimpin dunia.

Alhasil Hitler membawa ideologi Nazisme yang menghalalkan darah bagi mereka yang tidak sejalan dengan ideologi ini. Kaum Yahudi, kelompok sosialis hingga orang-orang disabilitas menjadi korban genosida Hitler yang mengerikan. Mereka disiksa, dibakar, mayatnya digantung di tempat-tempat umum serta di-labeli pengkhianat negara. Meskipun begitu secara militer mereka mampu memenangkan peperangan di luar negeri.

Di akhir dekade menjelang perang dunia II, Jerman mengalami banyak kekalahan yang semakin mendesak Hitler dan Nazisme Jerman. Dia pun semakin frustasi karena mengalami kerugian sosial hingga ekonomi. Mentalnya semakin terganggu hingga (Ada kisah yang menceritakan di penghujung hidupnya), Hitler menembak kepalanya sendiri hingga otaknya berhamburan kemana-mana. Betapa tragis nasib bapak ideologi nazisme Jerman ini.

Kepalanya yang selama ini dia agungkan untuk menyusun ideologi nazi yang menurutnya mampu mengangkat harkat martabat Jerman dan dirinya, dia sia-siakan dengan menembakkan timah panas yang menghancur-leburkan kepalanya. Naasnya, hari ini banyak warga jerman yang merasa malu terhadap perilaku Hitler di masa lalu. Mereka menyayangkan ideologi Nazi yang memakan korban berjuta-juta manusia.

Tidak beda dengan rekan sejawatnya di Jerman, Mussolini yang menjadi penggagas ideologi Fasis di Italia juga berlaku layaknya Firaunnya Mesir di masa perang dunia II. Mussolini adalah seorang jurnalis sosialis yang menghabiskan waktunya untuk dunia pendidikan dan kejurnalisan. Dia merasakan pedihnya Italia ketika tak memiliki wibawa di mata dunia karena kalah perang. Bahkan dia pernah tergabung dalam front anti perang yang menyuarakan kemanusiaan dan perdamaian.

Namun delusi kekuasaan mulai mengubahnya yang awalnya manusiawi menjadi monster keji yang siap menebas nyawa yang tak sependapat dengannya. Dimasa italia secara eksekutif dipimpin oleh Mussolini, dia membentuk pasukan hitam yang merupakan mafia dan preman-preman kota. Kondisi Italia makin mencekam. Mussolini mengubah keyakinan Italia dengan menganggap bangsanya adalah bangsa yang paling kuat dengan tangan besi.

Itali masuk ke dalam kubangan perang dunia II. Awalnya kemenangan diperoleh dengan cepat. Namun lama kelamaan, Italia mulai mengalami kekalahan yang kecut menghadapi Sekutu. Kesombongan yang dibangga-banggakan tiba-tiba hangus begitu saja.

Tidak beda jauh dari Hitler, akhir hidup Mussolini cukup tragis. Dia ditembak dalam pengasingannya. Mayatnya bukannya dimuliakan rakyat Italia, malah diinjak, diludahi, ditembaki, hingga dilempari batu. Betapa rakyat italia diam-diam memendam kebencian pada orang ini.

Dua contoh historis diatas setidaknya memberikan gambaran menarik bagi kita tentang kesombongan dan ketegasan. Tegas tentu berbeda dengan sombong. Tegas adalah sikap yang dibutuhkan untuk menghadapi situasi penindasan dan ketidakadilan. Tegas merupakan ekspresi yang lahir dari spiritualitas, emosionalitas, moralitas dan intelektualitas untuk menegakkan bendera kebenaran tanpa merendahkan martabat kemanusiaan. Yang dilawan tentu saja kebobrokan yang tercermin pada sifat manusia. Jadi batasan atau determinasi yang dibenci dalam gradasi tegas adalah sifat manusia bukan harkat martabat manusia.

Lain halnya dengan kesombongan. Sifat ini adalah ekspresi superioritas yang outputnya adalah penindasan dan perendahan martabat manusia. Seorang sudah berada dalam level sombong jika dia merasa dirinya yang terkuat, terhebat, terbaik sehingga menolak kebenaran. harus berhati-hati benar dalam menebak gerakan hati.

Namun apakah kita tidak boleh sombong? Agama memberikan determinasi menarik tentang sikap ini. Kata agama, sombong itu hanya layak disandang oleh Tuhan semata. Karena Tuhan yang menciptakan alam raya ini. Jadi Dialah yang layak dipuji. Namun demikian ternyata ada juga ajaran agama yang mengajarkan kita harus bersikap sombong. Pada saat apa? Sombonglah pada orang sombong. Menurut agama sikap seperti ini adalah sedekah.

Karena jika seorang yang merendahkan orang lain dan dia tetap dihormati, maka dia akan tetap pada sifatnya. Sementara kesombongan pada sifat sombong ini adalah kritik yang manjur yang dapat mengubah sebagai bentuk perlawanan mental dan sosial.

Penulis:  Crato, Alumni Padepokan Tevesia, Seorang freedom writer di tengah delusi sosial-politik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s